
Judul Novel : PULANG
Penulis : Tere Liye
Penerbit : REPUBLIKA Penerbit
Tahun Terbit : Cetakan VII, November 2015
Tebal : 400 halaman
SINOPSIS
Mula-mula, secara garis besar, Novel dari penulis fenomenal yang satu ini bercerita tentang perjalanan hidup seorang anak lelaki, bernama panggilan Bujang. Sejak berumur lima belas tahun, di sebuah hutan pedalaman Sumatera, rasa takutnya direnggut oleh seekor monster yang matanya merah ketika terkena cahaya petir.
Dari pengalaman di rimba itu, akhirnya ia dibawa oleh Tauke Muda (seorang bos) dari kota, yang berteman dekat dengan Ayahnya. Awalnya, Midah (Ibu dari Bujang) tak mau merelakan anak semata wayangnya itu dibawa oleh Tauke, namun sang ayah bersikeras menyuruh Bujang pergi bersama rombongan tersebut, dengan dalih: Agar anaknya dapat melihat dunia luar, dan dapat bersekolah.
Namun, Seiring berjalannya waktu, alasan keras sang ayah menyuruh ia ikut dengan Tauke Muda akhirnya diketahui oleh Bujang. Bukan alasan yang tercantum di ataslah yang pada hakikatnya diniatkan oleh Samad (ayah dari bujang). Dulunya, Samad adalah tangan kanan oleh ayah dari Tauke Muda yang menjalankan bisnis Shadow Economy dibalik naungan keluarga Tong.
Akan tetapi Samad mengundurkan diri karena alasan yang tak pasti. Dan, alasan tersebut pun diketahui Bujang saat Kopong (Teman dekat Samad sekaligus Kepala dari Tukang Pukul keluarga Tong) menceritakan semua tentang ayahnya ketika ia terbaring sakit.
Pada akhirnya, Bujang mewarisi keahlian dari ayah dan kakeknya, menjadi jagal yang mampu membuat orang-orang hingga calon presiden pun gemetar. Dan, ia juga ikut serta menjalankan bisnis dunia hitamnya keluarga Tong.
Dengan bertambahnya usia dan pengalaman, Bujang belakangan naik tingkat menjadi orang nomor satu keluarga Tong, serta menjadi anak kesayangan dari Tauke yang semakin hari semakin memprihatinkan kesehatannya.
Karena tak ada lagi yang pantas menerima mahkota, ia pun diserahi kekuasaan oleh Tauke agar menggantikannya memimpin keluarga Tong, yang walaupun ia menolak otoritas itu.
Seperti biasa, penulis amat mahir menghadirkan hal-hal yang tak terduga menjelang akhir-akhir halaman novel ini. Dari kudeta, atau pengkhianatan yang dilakukan oleh orang yang tak disangka sebelumnya, hingga menemukan tokoh utama dengan seseorang yang akan menceritakan asal-usul, dan desas-desus keluarga kecinya itu. Dari sanalah, akhirnya Bujang mengerti akan sebuah hakikat dari kata PULANG.
UNSUR INTRINSIK NOVEL
Tema :
Seorang anak lelaki yang dibesarkan oleh keluarga yang terusir mencari jati diri dan hakikat kehidupannya.
Tokoh & Perwatakan :
1. Bujang / Agam / si Babi Hutan (Tokoh Utama) :
Pemberani, Jagal Nomor 1, Pandai Berkelahi, Pintar, Penurut, Setia, Tidak Ingkar Janji (halaman 1, 24, 71, 129, 299, 400)
2. Samad (Bapak Bujang) :
Keras, Baik, Setia, Penolong, Penyayang (hhalaman 11, 238, 258-266, 321)
3. Midah (Ibu Bujang) :
Baik, Penyayang, Pengertian, Khawatiran, Setia (halaman 6-7, 13, 22-25, 191)
4. Tauke Muda / Tauke Besar (Pemimpin Keluarga Tong) :
Baik, Bijaksana, Tegas, Penyayang, Sabar (halaman 39-40, 56, 297-299)
5. Kopong (Kepala Tukang Pukul Keluarga Tong) :
Baik, Suka Bergurau, Suka Menghibur, Informan yang Baik (halaman 257-266)
6. Basyir (Sahabat Bujang) :
Senang Bercerita, Licik, Pengkhianat, Pendendam (halaman 42-45, 254, 285-297)
7. Guru Bushi (Pelatih Shuriken) :
Baik, Penyayang, Seorang Samurai Sejati (halaman 214-219)
8. Salonga (Pelatih Menembak) :
Keras, Tegas, Penembak yang Handal (halaman 173-176, 178-179, 183-187)
9. Frans si Amerika (Guru Bujang) :
Baik, Sabar, Pengertian (halaman 47-51)
10. Master Dragon (Kepala Keluarga Lin) :
Baik, Tegas, Bijaksana, Sabar (halaman 87-92)
11. White (Putra Frans si Amerika) :
Pandai Memasak, Serius, Penolong, Pandai Berkelahi, Cerdik (halaman 112-116, 127-133)
12. Yuki dan Kiko (Cucu Guru Bushi) :
Pencuri, Licik, Santai, Tidak Serius, Centil (halaman 109-111, 130-133, 354-355)
13. Shang (Putra Master Dragon) :
Pemarah, Licik, Emosian (halaman 88-91)
14. Tuanku Imam (Kakak Tertua Midah) :
Baik, Alim, Penyayang, Bijaksana (halaman 319-323, 325, 330, 341-345)
Alur :
Campuran (halaman 2, 27)
Latar / Setting :
• Latar Tempat : Sebuah Talang di Lereng Bukit Barisan (halaman 2)
Hutan Rimba Daerah Sumatera (halaman 8)
Ruangan dengan Nuansa Tradisional (halaman 27)
Rumah Tauke di Kota Provinsi (halaman 38)
Rumah Tauke di Ibu Kota (halaman 140)
Jepang (halaman 214)
Makau (halaman 159)
Grand Lisabon (halaman 117)
Hong Kong (halaman 111)
Sebuah Tempat Asing yang Melahirkan Kembali Seorang
Bujang yang Baru (halaman 345)
Pelabuhan Ibu Kota (halaman 352)
Gedung Kantor Parwez (halaman 365)
• Latar Waktu : Pagi hingga Malam (halaman 2, 20)
• Latar Suasana : Menegangkan (halaman 18)
Mengharukan (190-193)
Bahagia (halaman 398)
Sudut Pandang :
sudut pandang orang pertama, yaitu “Aku” (halaman 1)
Diksi & Gaya Bahasa :
1) Oksimoron
“Kau mungkin tidak mengenalku, Nak. Tapi aku amat mengenalmu.” (halaman 317)
2) Apofasis
“Cerita yang bagus, Basyir. Tapi itu tetap tidak mengubah fakta bahwa kau adalah pengkhianat rendah.” (halaman 289)
3) Retoris
“Siapa pula yang akan baik – baik setelah pengkhianatan?” (halaman 299)
4) Sarkasme
“Mereka mencuri teknologi pemindai yang telah kami kembangkan lima tahun terakhir di laboratorium Makau. Mereka pencuri pengecut.” (halaman 88)
5) Simbolik
“Orang – orang memanggilku Si Babi Hutan.” (halaman 28)
6) Personifikasi
“Hamparan Kota Hong Kong langsung menyambutku melalui jendela kamar.” (halaman 107)
7) Hiperbola
“Bayangkan perasaan Samad, mungkin sudah tercabik – cabik memdapat penolakan semcam itu.” (halaman 312)
8) Hipokorisme
“Hidup ini penuh misteri, Agam. Satu – dua aku mengerti jawabannya, dan lebih banyak yang tidak.” (halaman 322)
Amanat :
• Semua orang mempunyai masa lalu, dan itu bukan urusan siapa pun. Urus saja masa lalu tersebut masing-masing.
• Teruslah berlatih, jangan mudah menyerah, karena dengan adanya latihan setengah dari keberhasilan sudah kita raih.
• Berhati-hatilah dengan orang-orang terdekatmu, yang diam – diam dapat menusuk mu dari belakang.
• Setiap orang mempunyai kesempatan untuk berubah, merubah dirinya agar menjadi lebih baik lagi misalnya.
STRUKTUR NOVEL
• Abstraksi
“Kemari kau, Bujang," bapakku berseru lagi. Aku yang sedang mengangkat ceret berisi kopi panas menoleh, "Ayo!" Bapakku melotot, tidak sabaran. Aku bergegas melangkah ke sudut tikar. "Ini anakku, Tauke Muda," Bapak menunjukku"Usianya lima belas. Namanya Bujang. "Ah, jadi ini anak laki-lakimu, Samad Orang mata itu menatapku ujung kepala hingga kaki, "Tubuhnya gagah besar seperti bapaknya. Sudah seperti pemuda hitam tajam. Aku suka dia. Kelas berapa kau sekarang?" Bapakku menggeleng, tertawa, "Tidak sekolah. Seperti bapaknya." Orang bermata sipit masih menatapku, "Kemari, Bujang. Lebih dekat." Aku melangkah lagi, duduk dengan lutut di tikar. "Apakah kau pandai berburu babi hutan seperti bapakmu?" "Jangan harap." Bapak terkekeh, memotong jawaban, "Dia bahkan tidak pernah masuk hutan sendirian. Mamak- nya sangat pencemas. Semua serba dilarang, takut sekali anaknya terluka. Mentang-mentang anak satu-satunya. orang bermata sipit mengangguk-angguk takzim. "Kau mau ikut berburu nanti petang?" Aku mengangguk dengan cepat-bahkan sebelum melihat ekspresi wajah Bapak yang duduk di sebelah. "Bagus sekali! Mari kita lihat seberapa hebat kau di dalam sana. Bapak kau ini dulu, adalah pemburu yang hebat.
Berikan senapan padanya, dia akan menjatuhkan satu per satu babi." Setelah sejenak basa-basi, kami akhirnya berangkat. Mamak berdiri di atas anak tangga bersama ibu-ibu lain menata penuh rasa cemas. Aku melangkah mantap mengikuti rombongan. Mulai mendaki lereng, melewati jalanan setapak, menuju jantung rimba Sumatra. Lima belas menit sejak rombongan berpisah menjadi tiga, anjing kami mulai menyalak berbeda, tanda dia telah menemukan mangsa. Benar saja, satu menit kemudian, dua ekor babi terlihat di atas lereng, masih empat puluh meter lagi dari kami. Babi-babi itu mengutik. Menyadari bahaya mengancam, mereka segera lari lintang pukang. Tiba-tiba, saat kami bertanya-tanya apa yang terjadi dari balik belukar rimba muncullah seekor babi jantan raksasa. Beratnya tidak kurang dari lima ratus kilogram. Tubuhnya dua kali lebih besar dibanding empat babi jantan sebelumnya. Tingginya hampir seperti seekor sapi dewasa. Babi itu tidak menguik atau mendengus, tapi menggerung seperti seekor serigala buas. Matanya merah saat ditimpa cahaya petir. Taringnya panjang dan bulunya berdiri seperti surai harimau. Aku menggigit bibir. Aku benar-benar sudah melupakan pesan Mamak. Malam itu, di tengah hujan deras, di tengah rimba lereng Bukit Barisan, hanya aku yang masih sehat. Hanya aku yang masih bisa berdiri untuk menghalangi pimpinan kawanan babi menghabisi semuanya. Aku mencengkeram tombak pemberian Bapak. Aku berdiri dengan kaki kokoh, menatap ke depan, dan bersitatap dengan monster mengerikan itu. Aku tidak punya pilihan. Lari sia-sia saja karena gerakan babi ini cepat sekali. Aku juga tidak akan meninggalkan begitu. saja yang lain dalam keadaan terluka. Maka jika aku harus mati, aku akan memberikan perlawanan terbaik. Malam itu usiaku memang baru lima belas, tapi fisikku tinggi besar seperti seorang pemuda. Usiaku memang masih anak-anak, tapi di dala. Mengalir pikat seorang jagal paling masyhur di seluruh Sumatra. Malam itu, rasa takut di dadaku telah dikeluarkan dari sana. Aku tidak takut. Aku bersiap melakukan pertarungan hebat yang akan dikenang. Hari ini saat aku menyadari warisan leluhurku yang menakjubkan, bahwa aku tidak mengenal lagi definisi rasa takut. (Halaman 1-20)
• Orientasi
Esoknya, Bapak dan Mamak kembali bertengkar di belakang rumah. “Apa yang kau harapkan dari anak laki-lakimu Midah? Akan kau kirim dia belajar mengaji dengan Tuanku Imam? Akan kau kirim dia kembali ke kampung halaman tempat kau lahir? Kerabatmu hanya akan tertawa melihatnya, bagus jika mereka tidak meludahinya." Bapak berseru Mamak menangis dalam diam menyeka ujung matanya. “Lihatlah aku, Midah. Lihat. Sejak kecil aku berusaha melupakan asal keturunanku, belajar mengaji dan bermalam di surau. Aku sudah berusaha melepaskan semua catatan gelap milik keluargaku. Tapi saat aku melamarmu memintamu baik-baik, mereka hanya tertawa. Sakit sekali. Mereka tidak akan pernah bisa menerima kenyataan jika aku berbeda dengan bapakku, si tukang jagal. Aku terusir dari kampung. Pergi ke kota mencari penghidupan.
Mereka melempar kotoran saat aku pergi. Tidak mengapa semua kebencian itu, aku bisa mengunyahnya. Tidak mengapa meski akhirnya aku juga menjadi tukang jagal di kota, seperti orangtua ku yang dulu amat ku benci. Tidak mengapa. Karena yang paling menyakitkan adalah aku harus pergi melupakanmu, Midah. Seluruh cinta kita hancur."
“ Biarkan Bujang ikut Tauke Muda, Midah. Aku mohon .” Bapak memegang lutut Mamak, menatapnya dengan tatapan memohon, "Biarkan anak kita melihat dunia luar. Dia tidak akan jadi siapa-siapa di kampung ini. Tidak sekolah. Tidak berpengetahuan. Dia sudah lima belas, entah mau jadi apa dia di sini. Petani? Penyadap damar? tidak bisa pulang kecamatan, bertemu Tuanku Imam karena keluarga kau pasti mengusirnya, sama seperti saat mereka mengusirmu." Mamak tertunduk, air mata mengalir di pipinya. Menoleh padaku. "Apakah kau ingin pergi, Bujang?" Suara tanya Mama tersendat. Aku menatap sejenak wajah lelah Mamak, lantas mengangguk perlahan. Aku ingin pergi. Aku ingin ikut Tauke Muda ke kota. Percakapan telah tiba di ujung kesimpulan. Mamak menangis tergugu melihat anggukan kepalaku. Siang itu, Mamak menyiapkan buntalan kain berisi pakaianku sambil menangis. la lantas mendekap kepalaku erat-erat. Berbisik lembut, "Mamak akan mengizinkan kau pergi, Bujang. Meski itu sama saja dengan merobek separuh hati MamakPergilah, anakku, temukan masa depanmu. Sungguh, besok lusa kau akan pulang. Jika tidak ke ada Mamak, kau akan pulang pada hakikat sejati yang dalam dirimu.” Aku diam, menunduk. "Berjanjilah, Bujang, berjanjilah satu hal ini." Aku mendongak menatap wajah Mamak yang sembab Kau boleh melupakan Mamak, kau boleh melupakan seluruh kampung ini. Melupakan seluruh didikan yang Mamak berikan. Melupakan agama yang Mamak diam-diam jika bapak kau tidak ada di rumah Mamak diam sejenak, menyeka hidung, "Mamak tahu kau akan jadi apa di kota sana Mamak tahu Tapi, tapi apa pun yang akan kau lakukan di sana, berjanjilah Bujang, kau tidak akan makan daging babi atau daging anjing. Kau akan menjaga perutmu dari makanan haram dan kotor. Kau juga tidak akan menyentuh tuak dan segala minuman haram Aku terdiam. Aku tidak sepenuhnya mengerti pesan Mamak"Berjanjilah kau akan menjaga perutmu dari semua itu, Bujang. Agar besok lusa, jika hitam seluruh hidupmu,hitam seluruh hatimu, kau tetap punya satu titik putih, dan semoga itu berguna. Memanggilmu pulang." Mamak mencium ubun-ubunku. Aku mengangguk. Dua puluh tahun melesat cepat. Hari ini. Ruangan dengan nuansa tradisional itu terlihat nyaman. Lantai marmernya mengilap. Ada meja panjang terbuat dari kayu jati pilihan dan beberapa kursi empuk. Lukisan karya maestro ternama tergantung di dinding, juga hiasan ukir-ukiran berkualitas nomor satu. Hari ini. Tiga puluh menit sejak telepon Basyir, sedan hitam yang kukendarai merapat di sebuah kawasan elit Ibu Kota. Pintu gerbang yang terbuat dari baja setebal lima senti terbuka secara otomatis saat mengenali wajahku Tidak seperti gerbang yang harus didorong oleh dua orang seperti di Kota Provinsi dua puluh tahun dulu ini adalah markas besar Keluarga Tong yang dilengkapi dengan teknologi mutakhir.
Semua penghuni rumah dipindai dengan alat canggih, dan secara otomatis akan memberikannya otorisasi ke bagian mana saja dia bisa masuk. Basyir menyambutku di ruangan depan, ruangan luas berlantai marmer dan lampu kristal seberat satu ton di langit-langitnya, yang diangkut langsung secara utuh dari Turki. Aku mengangguk, "Tauke ada di mana? Kamar utama?" "Kamar belakang, orang tua itu ingin dengan jendela besar." "Akhirnya kau tiba, Bujang!" orang di atas ranjang berseru menatapku masam Tangannya terangkat.
Beberapa peralatan medis terlihat menempel di dada dan punggungnya Aku harus menemui calon presiden"Kau hendak bilang, calon presiden itu lebih penting dibanding aku, hah?" "Tidak. Bukan itu." ku mendekati ranjang “Apanya yang tidak? Bukankah kau sudah kuminta datang ke sini sejak pagi Orang dengan tubuh gempal dan mata sipit itu semakin berseru marah. Rambutnya yang memutih di usia ke-tujuh puluh bergerak-gerak tangannya teracung galak. "Waktuku sudah tiba, Bujang." Akhirnya Tauke bicara, membuka matanya. Aku menelan ludah mendengar kalimat pembukanya. Aku segera tahu apa yang hendak dia bicarakan. Itulah kenapa aku berusaha menundanya tadi pagi. "Aku akan mati." Tauke menatapku, berkata tanpa basa-basi. Aku mengembuskan napas. "Aku tahu kau tidak suka membicarakan ini Tapi kau satu-satunya.... Anak angkatku Tauke Besar diam sebentar"Kalau Samad masih bisa melihat anaknya, lihatlah Anaknya tumbuh begitu mengagumkan. Saat dia bicara, bahkan seorang presiden pun gemetar mendengarnya. Kau telah matang, siap untuk menjadi.... Dengarkan aku dulu, jangan dipotong, Bujang." Mulutku yang terbuka, menutup. "Cepat atau lambat, Bujang, keluarga ini butuh pemimpin baru. Dan kaulah orangnya. Kaki tangan pertamaku. Bersama Parwez, Basyir, dan yang lain keluarga ini akan semakin besar." "Kita tidak harus membicarakannya sekarang, Tauke. Aku akhirnya memotong. "Diam, Bujang!" Tauke Besar melotot"Kau selalu saja menghindar membicarakan ini. Untuk seseorang yang telah membunuh banyak orang, menghabisi dengan mudah lawan-lawannya, kau seharusnya santai saja membicarakan kematianku. Aku akan mati. Sama seperti Samad dan mamak kau di lereng hutan sana. Dikubur dalam tanah, dimakan cacing. Kuburkan aku segera agar semua bisa dilupakan dengan cepat. Dan kenapa aku memaksamu bicara sore ini, agar kau berhenti mencemaskan kematianku. Ada yang lebih serius yang harus kau cemaskan. Pertempuran besar." "Aku tidak punya keturunan, Bujang. Anak dan istriku mati terbakar saat perebutan kekuasaan di Kota Provinsi. Juga adik dan kakak-kakakku. Hanya aku dan ayahku yang selamat. Keluarga kami habis jika bapak kau tidak menyelamatkan Tauke Besar Hari ini, aku akan bangga sekali melihat kau menjadi kepala keluarga kita. Ayahku, Besar dulu, pasti juga akan senang bila keluarga ini diteruskan kepada anak Samad, putra dari seorang tukang pukul yang sangat dia sukai. Pertimbangkanlah, Bujang. Pikirkanlah sepanjang perjalanan kau ke Hong Kong. Jangan langsung kau tolak Aku diam. Menatap wajah tua Tauke yang menunggu jawabanku. Aku ingin menunda percakapan ini. Dalam hidupku kematian orang terdekat selalu membuatku menjadi lebih lemah.
Tapi teringat pesan dokter tadi, demi membuat Tauke senang, aku memutuskan mengalah. Akan ku- pertimbangkan permintaannya. Aku mengangguk "Bagus." Tauke terkekeh, "Nah, selamat jalan, Bujang. Salam dariku untuk Master Dragon, dia akan bijak memutuskan masalah kita di sana.” (Halaman 21-66)
• Komplikasi
“Dengan segala hormat, aku sungguh minta maaf perayaan ulang tahun Master harus terpotong sebentar oleh urusan sederhana. Tapi aku tidak punya pilihan. Jadi izinkan aku bicara." Aku menatap sekeliling dengan tenang. Keluarga Lin di Makau, enam bulan terakhir menolak melakukan pertemuan dengan kami, dan menolak seluruh pembicaraan. Namun malam ini, dengan terpaksa ain meminjam jamuan ini disaksikan keluarga lain dan Maser Dragon, agar masalah kami dengan mereka diselesaikan. Wajah orang di seberang mejaku merah padam. Sejak tadi dia sudah tidak suka dengan kehadiranku, terlihat dari wajahnya yang tidak bersahabat. Dia adalah putra tertua Keluarga Lin dari Makau, usianya empat puluh lima tahun. "Ayolah, Si Babi Hutan, kau tidak perlu membahas pekerjaan di meja ini Perwakilan kepala keluarga Vietnam memotong Aku menggeleng tegas. Aku harus membahasnya. "Mereka mencuri teknologi pemindai yang telah kami kembangkan lima tahun terakhir di laboratorium Makau Mereka pencuri pengecut." Aku berkata dingin. "Kami tidak mencurinya, bajingan. Kami membelinya dari profesor riset tersebut. Puluhan juta dolar." Putra tertua Keluarga Lin berteriak demi mendengar kalimatku. "Jika demikian, apa yang disampaikan Si Babi Hutan adalah kebenaran. Maka masalah ini adalah antara Keluarga Tong dan Keluarga Lin. Aku memutuskan agar mereka berdua menyelesaikannya tanpa melibatkan siapa pun. Jika ada satu saja keluarga lain ikut mendukung pihak bertikai, itu berarti berhadapan denganku. Aku memerintahkan Lin bertemu dengan perwakilan Keluarga Tong, membicarakannya secara terhormat. Jika Lin menolak menemuinya, maka itu berarti dia menolak mematuhi perintahku. Apa pun hasil pembicaraan dua keluarga, tidak ada satu pun yang boleh ikut campur Keputusan ini final." Aku mengangguk senang. Itulah keputusan yang aku harapkan. Pukul delapan lewat tiga puluh, pesawat jet Keluarga Tong mendarat di bandara Makau, Pemandangan pulau kecil Makau di malam hari tidak kalah menakjubkan dengan Hong Kong, tapi aku tidak datang ke sini untuk pelesir. Tiba di lantai 40, pintu lift terbuka. Delapan pengawal bergerak cepat dan aku melangkah mengikuti. Tukang pukul yang mengantarku menyuruh masuk. Setelah melintasi pintu, aku tiba di ruangan besar. Lebar ruangan dua puluh meter dan panjangnya empat puluh meter, hampir seluas satu sayap gedung, menghadap langsung Kota Makau yang gemerlap. Ruangan itu masih disekat lagi dengan dinding kaca tebal, dan barulah di dalam dinding kaca itu, terlihat dari kejauhan, orang yang harus kutemui. Salah satu anggota Keluarga Lin menahan langkahku Putra tertua"Kau tidak boleh membawa senjata." Dia menatap penuh hina. Aku mengangguk, mengeluarkan pistol colt dari balik as.
Hanya itu senjata yang kubawa-yang kubawa lebih arena nostalgia, bukan untuk mempertahankan diri. Pistol itu diletakkan di nampan atas meja. "Periksa dia." Dua orang memeriksaku.
Aku menatap dingin Tuan Lin, "Biarkan apa yang menjadi urusan keluarga kami tetap menjadi urusan keluarga kami. Aku tidak datang untuk basa-basi, apalagi belajar meditasi. Aku datang untuk mengambil teknologi pemindai yang kalian curi. "Kau telah melakukan kesalahan fatal, Tuan Lin." Tuan Lin terkekeh, kepalanya mendongak, "Kau mengancamku anak muda? Astaga. Bahkan saat istri profesor itu kami bunuh, apa yang dilakukan Keluarga Tong Tidak ada. Hanya merengek meminta bertemu denganku, kemudian putus asa mengadu pada Master Dragon. Kalian hanya Cukup!" Aku mendesis, tanganku cepat sekali meraih kartu nama di saku kemeja. Lantas dengan keahlian seorang ninja terlatih, kartu nama itu telah kulemparkan ke leher Tuan Lin yang sedang terkekeh mendongak. Kartu nama itu secara kasat mata hanyalah kertas, tapi tukang pukul yang memeriksaku sebelumnya tertipu Di dalam kartu nama itu, pipih dengan tebal hanya sepersekian milimeter, adalah logam titanium. Saat kartu itu dilemparkan dengan kekuatan penuh, kertas kecil itu bisa menjadi senjata mematikan, melesat cepat kurang dari sedetik, kartu sudah terbenam separuhnya di leher Tuan Lin Tawa Tuan Lin terhenti. Kepalanya tertunduk seperti kembali dalam posisi meditasi awalnya. Darah merembes dari lehernya, tapi dia masih dalam posisi duduknya posisi meditasi. Aku bergegas berdiri, melangkah cepat menuju meja tempat prototype pemindai. Di luar ruang kaca, puluhan tukang pukul menatap tidak men Mereka sepertinya baru akan melakukan sesuatu jika Tuan Lin memberikan kode atau tidak lagi dalam posisi duduk bermeditasi. Ini keuntungan besar bagiku. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam, ruangan ini kedap suara. Posisi duduk Tuan Lin masih sama seperti sebelumnya. Aku berjalan menuju pintu kaca, membawa kotak berisi pemindai"Buka pintunya!" Berseru tegas. Pesawat jet yang dikemudikan Edwin mendarat mulus di bandara Ibu Kota. "Terima kasih telah menemaniku dua hari terakhir, Edwin." Aku menepuk bahunya. "Tidak masalah, Capt." Edwin mengangguk. Sedan hitam milikku sudah terparkir rapi di hanggar pesawat jet pribadi. Pelayan Keluarga Tong sudah menyiapkannya. Aku mengemudikan mobil itu menuju kantor Parwez. Pukul empat sore, nan padat dengan jutaan komuter Ibu Kota yang mulai pulang Aku tiba di kantor Parwez pukul lima sore. Aku melangkah melintasi lobi gedung dan menuju lift khusus yang langsung ke lantai Parwez. Petugas security gedung mengenaliku, juga beberapa tukang pukul. Basyir sepertinya telah menyuruh beberapa tukang pukul ikut menjaga Mereka dengan sekitar agar gedung. membaur tidak terlalu mencolok. Ada yang duduk di sofa, membaca koran, bermain gadget sambil mengawasi dan pura-pura orang-orang. "Selamat sore si Babi Hutan." Salah satu letnan menyapaku di pintu lift, mengangguk. Dia tidak ubahnya seperti seorang eksekutif muda dengan pakaian rapinya. Aku balas mengangguk, melangkah masuk ke dalam lift, "Basyir ke mana, Joni?" "Basyir pergi ke pelabuhan empat jam lalu. "Pelabuhan?" "Ada laporan yang sama di sana.
Aktivitas men- curigakan dari orang-orang tertentu." Nama letnan itu adalah Joni, salah satu tuk pukul terbaik Keluarga Tong. Berpendidikan, karena dia juga disekolahkan Tauke hingga sarjana. Dia sering menerima tugas dariku.
Dia lebih dekat denganku dibanding dengan Basyir"Apa yang kalian temukan di sini Joni?" Lift bergerak naik. "Sejauh ini belum ada, Bujang. Orang-orang itu hanya pekerja kantoran biasa, aku telah menginterogasi beberapa di antaranya. Mereka disuruh pihak lain. Mereka juga tidak mengerti, hanya menerima bayaran untuk datang ke kantor-kantor di gedung kita secara acak, random Kejadiannya tidak hanya di sini atau pelabuhan, tapi juga di belasan titik properti lainnya. Polanya sama, mereka membanjiri semua tempat milik kita. "Pengalih perhatian." Aku bergumam Iya, menurutku juga begitu." oni mengangguk, Basyir sudah mengirim tukang pukul ke setiap tempat yang melaporkan ada tamu-tamu mencurigakan, me meriksanya satu per satu. Kita mengerahkan semua anggota keluarga sepanjang hari." Aku bergumam, ini serius. Siapa pun di balik situasi ini, mereka sedang menyiapkan rencana, menyebar begitu banyak kemungkinan serangan, membuat konsentrasi terpecah. Bangunan utama nampak lengang-sebenarnya seluruh markas nyaris kosong, hanya menyisakan lima puluh anggota Brigade Tong. Letnan dan ratusan tukang pukul lain sedang disebar oleh Basyir, memeriksa ancaman serangan. Beberapa pelayan masih terlihat bekerja, tapi mereka hanya membereskan sisa-sisa pekerjaan. Sudah pukul delapan, waktunya mereka beristirahat. Aku menaiki anak tangga menuju kamar Tauke Besar, mendorong pintu jati berukiran. Halo, Bujang." Tauke menyapaku. Dia sedang duduk bersandar di ranjang, membaca sesuatu. "Selamat malam, Tauke Aku balas menyapa, tersenyum. Tauke terlihat sehat, piring makan malam yang ada di atas meja sebelah ranjang habis. Tirai jendela kamar dibiarkan terbuka, sesekali terlihat gura petir di kejauhan"Kapan kau tiba dari Hong Kong?" Tauke bertanya meletakkan buku. Kapan aku tiba? Saat itulah. Aku berdiri mematung. Tiba-tiba kesadaran itu datang di kepalaku. Aku keliru sekali. Benar-benar telah keliru. Ini bukan ancaman serangan dari Keluarga Lin yang membalas dendam. Ini juga bukan datang dari keluarga yang membenci kesuksesan Tauke rena telah disingkirkan. Ini adalah skenario lihai. Ini adalah pengkhianatan. Cara lama yang akan terus abadi di dunia hitam. Tekan tombol daruratnya, Joni!" Aku berseru Joni menoleh, tidak mengerti. "Aktifkan pertahanan bangunan utama! SEKARANG!" Aku membentaknya. Joni kali ini tidak banyak bertanya. Dia lari ke dinding dekat ranjang, lalu menekan tombol di sana. Persis itu ditekan, suara alarm bahaya terdengar saat tombol melengking, terdengar belasan pintu baja menutup melapisi pintu-pintu membentuk benteng pertahanan. Ada apa, Bujang? Kenapa kau menyuruh Joni menekan tombol Tauke Besar menatapku tidak mengerti Napasku menderu, aku mengusap wajah. Bagaimana mungkin aku lalai melihat semua ini? Bukankah Kopong dulu pernah memberitahuku tentang pengkhianatan? Bagaimana mungkin aku tidak melihatnya? Dekat sekali. Parwez di sebelahku sudah pucat pasi. Situasi di sekitar kami berubah menjadi sangat menegangkan. Suara alarm itu terdengar di seluruh markas besar.
Puluhan pelayan langsung berlarian saat mendengarnya, menuju tempat erlindung. Mereka sudah berlatih prosedur darurat seperti ini. Mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang harus diamankan terlebih dahulu. "Ada apa, Bujang?" Tauke mendesak. "Apakah Tauke menyuruhku segera pulang malam ini?" Aku balas bertanya, mendesak Tauke menggeleng, "Aku justru baru tahu kau tiba dari Hong Kong, Bujang." Aku meremas Jemari “Basyir! Basyir adalah pengkhianatnya.” Hanya Basyir dan Parwez yang tahu aku telah pulang. Dan sore tadi, saat meneleponku, dia bilang Tauke telah menungguku di rumah. Itu dusta. Itu bagian skenario lihainya. Dia sengaja membuatku, Parwez, dan Tauke ada di rumah malam ini, berkumpul menjadi satu. Kami adalah pucuk pimpinan Keluarga Tong yang menjadi sasaran empuk di markas, ketika ratusan tukang pukul lain justru disuruh pergi ke banyak tempat. Serangan itu tidak akan dilakukan oleh pihak luar. Serangan itu akan dilakukan dari dalam. Aku mengusap wajah, memaki dalam hati, bagaimana mungkin aku abai sekali melihatnya? "Assalamualaikum, Bujang." Suara yang amat kulkenali, salam yang khas. Basyir telah datang. Sosoknya muncul di antara kepul debu. Dia datang mengenakan jubah hitam tradisional dengan bebat kepala bertuliskan huruf Arab. Tidak ada lagi pa rapi kemeja lengan panjang dan celana kain. Kini dia telah berubah persis seperti"penunggang kuda" yang dulu dia cita-citakan. Persis saat Basyir berhenti tertawa, dari balik lubang di dinding melangkah masuk seseorang. Putra tertua Keluarga Lin"Selamat malam, Si Babi Hutan. Kauterkejut melihatku datang Aku menggerung. Ini sungguh di luar dugaan Bagaimana? Bagaimana dia bisa masuk begitu saja ke dalam markas? Keramaian di luar memberitahuku bahwa ada puluhan mobil merapat ke halaman bangunan utama, bergabung dengan Brigade Tong. Kini aku tahu itu bukan tukang pukul Keluarga Tong, melainkan pasukan Keluarga Lin yang didatangkan dari Makau, juga orang- orang bayaran lain yang direkrut di Ibu Kota. Tubuh tinggi besar Basyir menyerangku. Dia ber seru buas, khanjar-nya menyasar kepala, aku berusaha menangkisnya dengan pedang. Tenagaku sudah lemah. Pedang terlepas dari tanganku, berkelontang di lantai. Tangan kosong Basyir meninju daguku, tanpa bisa kuhindari, tubuhku terpelanting ke belakang, mendarat di ranjang Tauke Besar. Saat Basyir tertahan di depan sana, berteriak marah karena kaget, satu tangan Tauke yang menggenggam benda kecil seperti remote control, menekan tombol darurat terakhir. Tauke memang menungguku terjatuh di atas ranjang, agar dia bisa membawaku. Saat tombol itu diaktifkan, lantai di bawah tempat tidur merekah, membentuk sebuah lorong miring. Ranjang meluncur turun membawaku, Tauke Besar, dan juga Parwez. Cepat sekali kejadiannya. Sedetik kemudian lantai itu kembali menutup rapat, menyisakan Basyir yang berteriak kalap. Juga putra tertua Keluarga Lin. "Dimana lorong yang dibangun Kopong ini berakhir?” Aku bertanya, mengabaikan keluhan Tauke. Waktu kami terbatas. Cepat atau lambat Basyir akan menyuruh anak- buahnya mencari kami, menghancurkan pintu besi di atas lorong “Ke halaman rumah seorang kawan." Kami tiba di atas hamparan rumput yang terpotong rapi, halaman asri sebuah rumah.
Tubuhku terkulai, tenagaku sudah habis. Tauke Besar terjatuh di sebelahku. Parwez berseru cemas. Mata nanarku menatap ke depan, antara sadar dan tidak. Kemudian kulihat pintu rumah kecil itu terbuka. Dari dalamnya, seseorang yang mengenakan serban dan berbaju putih mendekat. Wajah tua itu menatapku, janggut putihnya bergerak samar, aku hampir pingsan. "Agam, kau tidak apa-apa, Nak?'' Hanya sedikit sekali orang yang tahu namaku. Lebih banyak hanya memanggilku Bujang, atau memanggil julukanku, Si Babi Hutan. api orang tua yang mendekat itu menyebut nama asliku. (Halaman 87-301)
• Evaluasi
Semburat merah di horizon laut mulai terang, warnanya berpendar – pendar menakjubkan. Bagian atas matahari mulai terlihat. "Tapi sungguh, jangan dilawan semua hari hari menyakitkan itu, Nak. Jangan pernah kau lawan. Karena kau pasti kalah. Mau semuak apa pun kau dengan hari- hari itu, matahari akan tetap terbit indah seperti yang kita lihat sekarang. Mau sejijik apa pun kau dengan hari- hari itu, matahari akan tetap memenuhi janjinya, terbit dan terbit lagi tanpa peduli apa perasaanmu. Kau keliru sekali jika berusaha melawannya, memben itu tidak pernah menyelesaikan masalah." Aku tercenung, suara lembut Tuanku Imam terasa menusuk-nusuk hatiku. Aku mulai mengerti arah pembicaraan Tuanku Imam Dekap Peluklah semuanya, Agam. Peluk erat-erat. hatimu seluruh kebencian itu. Hanya itu cara agar damai, Nak. Semua pertanyaan, semua keraguan, semua kecemasan, semua kenangan masa lalu, peluklah mereka erat – erat. Tidak perlu disesali, tidak perlu buat apa? Bukankah kita selalu bisa melihat hari yang indah meski di hari terburuk sekalipun?. "Ketahuilah, Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran. Kau membenci suara adzan misalnya, benci sekali, mengingatkan pada masa lalu. Itu karena kau tidak pernah mau berdamai dengan kenangan tersebut. Adzan jelas adalah mekanisme Tuhan memanggil siapa pun agar pulang ke pangkuan Tuhan, bersujud. Adzan tidak dirancang untuk mengganggu, suara berisik itu bukan untuk menyakiti siapa pun. Itu justru suara panggilan dan harus kencang agar orang mendengarnya. Kau tidak pernah mau berdamai dengan hati sendiri, Nak, itulah yang membuatmu benci pada suara adzan, kau sendiri yang mendefinisikannya demikian. “Kau punya kesempatan yang sama, Nak. Pagi ini, sambil menatap matahari terbit, kau bisa menafsirkan ulang seluruh pemahaman hidupmu. Menerjemahkan kembali keberanianmu Apakah kau Bujang? Apakah kau Si Babi Hutan? Apakah kau Agam? Atau kau akan lahir dengan sosok baru? Rebut kembali markas Keluarga Tong, kau berhak mewarisinya dari Tauke Besar. Jangan ragu walau sejengkal, jangan takut walau sebenang. Majulah Nak. Aku mengangguk.
Semangat baru memenuhi rong dadaku"Kau bisa melakukannya, Agam Tuanku Imam menepuk-nepuk pipiku. Sekali lagi aku mengangguk. Aku bisa melakukannya.
Cahaya matahari pagi menerangi seluruh menara. Hari yang baru telah dimulai. sihat dan cerita lembut Tuanku Imam telah menumbuhkan sesuatu di hatiku. Sama persis saat dulu menatap mata merah si babi hutan dengan moncong berlendir. Bedanya, waktu itu keberanian itu datang dengan gumpal pekat hitam. Pagi ini, keberanian itu datang dengan cahaya terang. Aku takut, itu benar. Aku bahkan tidak tahu bagaimana harus mengalahkan Basyir Tapi aku akan berusaha sebaik mungkin. Sisanya akan kuserahkan kepada pemegang takdir kehidupan sesuatu yang tidak pernah kupahami dan kulakukan selama ini. Tuanku Imam benar. Akan selalu ada hari-hari me- nyakitkan dan kita tidak tahu kapan hari itu menghantam kita. Tapi akan selalu ada hari-hari berikutnya, memulai bab yang baru bersama matahari terbit. (Halaman 338-345)
• Resolusi
"Kita akan ke mana, Bujang?" Parwez bertanya suaranya cemas"Kita akan berperang." Parwez menelan ludah, wajahnya memucat. "Kau serius?" Aku mengangguk. "Hanya kita berdua, Bujang? Bagaimana kita akan melawan Basyir?" Aku menggeleng, "Kita tidak pernah berdua, Parwez Kita punya banyak sekali orang-orang yang bersedia membantu. Hanya kesetiaan pada prinsiplah yang akan memanggil kesetiaan terbaik. Pagi ini aku akan memanggil semuanya." Tanpa proses pelepasan, kami berangkat menuju arena perang. Hujan terus turun deras di luar. Basyir masih berdiri di depanku, empat langkah, kedua tangannya memegang khanjar. Dia siap mengirim serangan penghabisan. "Kau tidak pernah bisa mengalahkanku, Bujang! Aku selalu mengalahkanmu di amok." Basyir berteriak, "Kau pasti telah curang! Kau menyihirku." "Semua sudah selesai Basyir Aku akan memaafkanamu." Aku menatap Basyir iba. "Kau! Hadapi aku, pengecut. Jangan menggunakan trik sihir menghilang. Basyir melompat, kembali menyerang dengan dua khanjar. “Kau belum menang, Bujang!" Basyir berkata serak, dia lompat hendak menyerangku lagi. Sia-sia, bagian dalam tubuhnya terluka parah karena pukulanku tadi. Baru dua langkah, tubuhnya tumbang ke marmer, khanjar terlepas dari genggaman, berkelotakan mengenai lantai. Mulutnya mengeluarkan darah lebih banyak. Empat anggota Brigade Tong yang tersisa berseru Dua dari mereka bergegas mendekati Basyir, memastikan pimpinan mereka baik-baik saja. Pertarungan telah selesai. Kami telah memenangkan peperangan. Dari jauh sayup-sayup terdengar suara adzan Shubuh. Aku tersenyum. Tuanku Imam benar, itu panggilan Tuhan bagi siapa pun, tidak pernah didesain untuk mengganggu. Kali ini, aku bisa mendengarnya dengan lega. Lebih dari 13.000 hari aku mendengarkan suara adzan, lima kali sehari, pagi siang, sore, dan malam. Dari sekian puluh ribu panggilan itu, kali ini aku baru memahaminya. Aku menyeka wajah yang basah oleh butir air. Terlambat? Tidak juga.
Panggilan itu tidak pernah mengenal kata terlambat, panggilan itu selalu bekerja secara misterius. Aku kepala Keluarga Tong sekarang, memimpin ribuan anggota keluarga dan puluhan perusahaan yang tersebar di seluruh kawasan Asia Pasifik Aku bisa menentukan haluan baru ke mana keluarga penguasa shadow economy ini akan dibawa. Akulah Tauke Besar. (Halaman 347-385)
• Koda
Empat minggu sejak peperangan di gedung kantor Parwez, aku memutuskan menjenguk pusara Mamak dan Bapak di talang. Menatap kembali ladang tadah hujan milik Bapak yang sekarang telah menjadi belukar, juga mengunjungi rumah panggung yang hanya tinggal tiangnya saja. Rumput liar tumbuh di atas reruntuhannya. Dua puluh tahun lamanya aku meninggalkan ini. Aku duduk di sebelah pusara Mamak, tak jauh dari bekas ladang dan reruntuhan rumah. Sambil menatap gundukan tanah tanpa nisan, aku berkata lirih. "Mamak, Bujang pulang hari ini. Tidak ke pangkuanmu, tidak lagi bisa mencium tan Anakmu pulang ke samping pusaramu, bersimpuh penuh kerinduan. Mamak, Bujang pulang hari ini. Anak laki-lakimu satu- satunya telah kembali. Maafkan aku yang tidak pernah menjengukmu selama ini. Sungguh maafkan Mamak, Bujang pulang hari ini. Terima kasih banyak atas seluruh didikanmu, walau Mamak harus menangis setiap kali melihat Bapak melecut punggungku dengan rotan. Terima kasih banyak atas nasihat dan pesanmu. Mamak, Bujang pulang hari ini. Tidak hanya pulang bersimpuh di pusaramu, tapi juga telah pulang kepada panggilan Tuhan. Sungguh, sejauh apa pun kehidupan menyesatkan, segelap apa pun hitamnya jalan yang kutempuh, Tuhan selalu memanggil kami untuk pulang. Anakmu telah pulang." Lima belas menit kemudian, aku sudah mengenakan kacamata hitam. Melangkah mantap menuju lapangan dekat ladang padi tadah hujan, di sana telah menunggu helikopter. Aku naik ke atasnya. "Berangkat, Edwin. Kita harus tiba di Hong Kong malam ini, aku ada urusan dengan Master Dragon yang belum selesai." (Halaman 399-400)
Daftar Pustaka
• http://sitisolekhah31.blogspot.com/2015/12/resensi-novel-pulang.html?m=1
• http://www.pelajaranbahasaindonesia.com/2015/12/08/resensi-novel-pulang-karya-tere-liye/
• http://ceritamaula.blogspot.com/2015/12/resensi-novel-best-seller-terbaru.html